PESTA ROMBONG 2012

pesta rombong smada tahun ini meriah banget ada galaband and pertunjukan dance tapi yang paling meriah tetep narsisnya kelas sepuluh tujuh

CEWEK EXPHITU

narsis sih narsis tapi olah raga belum mandi kok udah fofo-foto di lapangan

HASIL KARYA PESTA ROMBONG

pesta rombong 2012 meski karya kami nggak juara tapi kebersamaan kami tetep terjaga

NARSIS CLASS

mungkin sobat heran kenapa sepuluh tujuh kok narsis gini gue sendiri juga bingung munkin dulu mama papanya ngidam kodak foto nggak keturutan jadi gini akibatnya

CEWEK-CEWEK JELEK LAGI DIFOTO

cewek-cewek jelek lagi foto untung aja kameranya nggak meledak kasihan cowoknya nyium bau soalnya cewek sepuluh tujuh belum mandi udah foto-foto

Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL KARTINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL KARTINI. Tampilkan semua postingan

23 Maret 2012

Sobat Tahu Nggak Siapa Sebenernya RA.Kartini?


Siapa sebenarnya R.A Kartini? Berikut ini saya kutipkan secara singkat beliau dari Wikipedia. Selamat membaca :

Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Sosroningrat, bupati Jepara. Beliau putri R.M. Sosroningrat dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Kala itu poligami adalah suatu hal yang biasa. Kartini lahir dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya, R.M.A.A Sosroningrat, pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Teluwakur, Jepara. Peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa.

Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, RM Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Sepenggal kisah R.A Kartini

Kyai Sholeh Darat, sempat tertegun ketika Kartini muda yang baru berusia belasan tahun bertanya dengan nada protes kepadanya, “Kyai, perkenankanlah saya menanyakan bagaimana hukumnya apabila ada seorang berilmu, namun dia menyembunyikan ilmunya?” “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”, Sang kyai balik bertanya. “Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Qur’an yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hatiku kepada ALLOH. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” jawab Kartini.


Tergugah oleh pertanyaan Kartini inilah, Kyai Sholeh menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa dengan judul Faizhur Rahman Fit Tafsiril Qur’an. Terjemahan ini terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim, dihadiahkan kepada Kartini pada hari pernikahannya.
Dialah Kartini, seorang pahlawan yang banyak di-salah-tafsir-kan sejarahnya. Baru sekian abad berselang R.A. Kartini merangkai pemikirannya tentang wanita, kini kaum wanita sepeninggalnya terbata-bata membaca sejarahnya yang tak lagi utuh. Apa yang dulu dibangun Kartini, kini diuraikan orang-orang yang mengaku pewaris perjuangannya. Apa yang dulu tak pernah dikatakan, kini dengan seenaknya sendiri orang menisbatkan kepadanya. Terlalu banyak kezaliman dilakukan orang terhadap R.A. Kartini.
Sedangkan bukti paling autentik tentang cita-cita yang sebenarnya ada pada surat-surat yang dikirimnya (dikumpulkan menjadi sebuah buku Door Duisternis Tot Licht).
PERGOLAKAN PEMIKIRAN KARTINI
Pada mulanya Kartini sangat kecewa dengan ajaran Islam dan adat istiadat Jawa. Keduanya dianggap sebagai penghambat kemajuan. kritiknya terhadap tradisi Jawa tampak dalam ungkapan berikut: “Sesungguhnya adat sopan santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak, bila hendak berlalu dihadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh ber-kamu dan ber-engkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dengan bahasa kromo inggil. Tiap kalimat yang diucapkan haruslah selalu diakhiri dengan sembah….” (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899).
Bahkan lebih lanjut dia katakan: “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu, segala peraturan-peraturan semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja.” Sementara terhadap ajaran Islam, agama yang dipegang dengan teguh, Kartini pernah mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan dengan guru ngajinya. Kepada Stella, ia menulis: “Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikan dengan umat lain. Lagi pula sebenarnya agamaku Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Qur’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir pekerjaan gilakah, orang diajar membaca tetapi tidak diajar makna yang dibacanya.” (Surat Kartini kepada Stella, 6 November, 1890).
Kekecewaan Kartini semakin berkepanjangan kepada Islam lantaran guru-guru mengajinya yang tidak mampu menjelaskan hakekat Islam. Al-Qur’an tidak lebih hafalan-hafalan yang tidak dimengerti maksudnya. Kepada Abendanon, ia pernah menulis: “Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang aku tidak tahu apa perlunya dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an, belajar menghafalkan perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.” (Kepada EE. Abendanon, 15 Agustus 1902).
ALLOH Subhanahu wata’ala mengaruniakan hidayah-NYA kepada siapa saja yang dikehendaki. Sejarah hidup Kartini mulai berubah sejak bertemu dengan ulama besar, Kyai Sholeh Darat, dalam pengajian keluarga di rumah pamannya di Demak. Sejak peristiwa itulah nada surat-suratnya mulai berubah . Keyakinannya mulai tumbuh dan semakin tebal, sementara kritik-kritiknya kepada budaya Eropa dan ajaran Kristen mulai bermunculan. Terlebih-lebih sejak ia mendapat hadiah pernikahan berupa terjemah Al-Qur’an dalam bahasa Jawa dari Kyai Sholeh. Pernikahan R.A. Kartini telah menjadi titik awal perubahan besar persepsinya tentang Islam.
Pandangan kritis Kartini tertuju kepada peradaban Barat yang selama itu menjadi kiblat orang Jawa yang keblinger. Ia mulai cerdas mencermati kerusakan peradaban Eropa. Kepada Abendanon, ia menulis: “Sudah lewat masanya , tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat untuk EE. Abendanon, 27 Oktober 1902).
“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa, atau orang Jawa yang kebarat-baratan.” (Kepada Ny. Abendanon, 10 Juli 1902).
HAKIKAT PERJUANGAN KARTINI
Kartini tidak pernah mengajarkan emansipasi wanita yang didefinisikan sebagai wanita harus keluar berkarier menjadi pesaing para pria di berbagai lapangan kehidupan, untuk kemudian membiarkan anak-anak dan rumah-tangganya terbengkelai.
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).
Memang banyak anggapan yang menghinakan wanita Ada yang menganggap wanita itu manusia kelas dua, sehingga tidak diberi kesempatan mengenyam
pendidikan dan pengajaran. Wajar jika Kartini mengangkat hal itu untuk diperhatikan. Akan tetapi bukan persamaan dalam segala hal antara lelaki dan wanita – emansipasi, kata orang – yang dituntut Kartini. Lihatlah ungkapannya yang sangat jelas: “…bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan lelaki dalam perjuangan hidupnya”, tetapi, “…agar wanita lebih cakapmelakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tanggannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.
KARTINI MENENTANG MISSIONARIS
Entah ini rekayasa sebuah kekuatan misi dunia atau bukan, yang jelas teman-teman Kartini yang berpolemik lewat surat itu ternyata para missionaris Kristen dan agen-agen gerakan feminisme Yahudi.
Dr. Adriani misalnya, salah seorang teman surat-menyurat Kartini yang dikenalnya lewat Ny. Abendanon, ia adalah seorang ahli bahasa dan pendeta yang bertugas menyebarkan ajaran kristen kepada suku Toraja Sul-Sel.
Ny. Abendanon dan suaminya Mr. J.H.Abendanon, seorang direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan yang bertugas melaksanakan politik etis di Indonesia. Dia banyak berkonsultasi dengan Dr. Snouck Hurgronye (yang menyamar dengan nama palsu Abdul Ghafar), musuh besar umat Islam yang menyarankan pembaratan golongan Islam terutama santrinya (sekulerisasi).
Stella, teman Kartini yang didapat setelah menawarkan diri sebagai sahabat pena untuk wanita Eropa, ternyata seorang wanita Yahudi di Belanda. Stella adalah seorang anggota militan Pergerakan Feminis di Belanda.
Yang tak kalah gencarnya dalam upaya mengkristenkan Kartini adalah Ny. Van Kol (Nellie Van Kol) yang sempat dituturkannya kepada Dr. Andriani: “Nyonya Van Kol banyak menceritakan kepada kami tentang Yesus yang tuan muliakan itu, tentang rasul-rasul Petrus dan Paulus, dan kami senang mendengar semua itu” (Surat kartini kepada Dr. Andriani, 5 Juli 1902).
Ny. Van Kol ternyata gagal mengkristenkan Kartini. Walaupun Kartini sempat terpengaruh dengan nilai-nilai kristiani, namun dia segera sadar dengan misi Kristenisasi yang telah melingkupi bangsanya. Inilah puncak kesadaran agama, pribadi Kartini: “Dan saya menjawab, tidak ada Tuhan kecuali ALLOH. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada ALLOH dan kami tetap beriman kepada-NYA. Kami ingin mengabdi kepada ALLOH dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan ALLOH.” (Surat kepada Ny. Abendanon, 12 oktober 1902).
“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada ALLOH. Tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dialah yang dapat menyembuhkan…. Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu hamba ALLOH.” (Surat kartini kepada Ny. Abendanon, 1 Agustus 1903)
“Moga-moga kami mendapat rahmat, dan bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” (Kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1802)
“ALLOH Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir, pelindung-pelindungnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Qs. Al-Baqoroh(Sapi betina) 2, 257).

Sejarah Kartini, Pemikiran dan Peringatan Hari Kartini

Setiap tanggal 21 april, bangsa Indonesia memperingati hari Kartini. Kartini lahir di Jepara tepatnya pada tanggal 21 april 1879 di Jepara Jawa tengah. Nama lengkap kartini adalah Raden Ajeng (RA) Kartini, beliau anak Bupati Jepara waktu itu yaitu Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat  yang sebelmnya juga sebagai wedono mayong jepara, dan ibunya bernama M.A Ngasirah.
Karena termasuk keluarga bangsawan, maka waktu itu Kartini hingga usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. yang saat itu Indoensia memang masih dijajah Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, waktu itu ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Karena sudah bisa menguasai bahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman sekolah yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
Dengan bekal ilmunya saat itu kartini telah menulis buku yang terkenal yaitu Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duistermis tox Licht), itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya. Buku tersebut diterbitkan oleh Balai Pustaka dan penilisnya adalah Armijn Pene yang merupakan salah seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru dan tercatat sebagai salah seorang penerjemah surat-surat Kartini ke dalam Habis Gelap Terbitlah Terang.
Dikarenakan adat istiadat dan budaya saat itu, oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang yang bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, dan menikah tanggal 12 november 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai gedung pramuka.
Setelah memiliki anak pertama, beberapa bulan kemudian tepatnya tanggal 17 september 1904 Kartini meninggal pada usia 25 tahun da dimakamkan di desa Bulu kecamatan Bulu Kabupaten Rembang.
b. Pemikiran- Pemikiran Kartini
Buku Habis Gelap Terbitlah Terang,  menjadi inspirasi dan pedorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan Kartini tidaklah hanya tertulis di atas kertas tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang. Bahkan diwaktu kemudian di beebrpa kota  didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang tahun 1912, selanjutnya di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan menyebar di daerah lain dengan nama “sekolah Kartini”, yang  didirikan oleh keluarga Van Deventer seorang tokoh politik Etis.
Banyak tulisan-tulisan yang dihasilkan kartini, selain yang dibukukan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.  Tulisankartini melalui  surat-suratnya tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan.
Kartini dalam tulisannya tersbut menginginkan wanita-wanita Indonesia memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
Pemikiran kartini yang tertulis di surat-suratnya juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. “…Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu…” Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.
Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi , meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini. Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah, dan memang akhirnya menikah dengan Bupati Rembang.
Sepanjang hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Dia mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda dia sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut, tentang adanya persamaan hak kaum wanita dan pria.
Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di kemudian hari.
Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Jayalah Wanita Indonesia, Jayalah Indonesiaku.
Selamat Hari Kartini

20 Maret 2012

Emansipasi Wanita Dibalik Kepeloporan Kartini

kartini1Memaknai refleksi kelahiran RA Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April sebagai tokoh nasional yang dikenal sangat getol memperjuangkan gerakan emansipasi wanita di Indonesia, sepintas lalu merupakan dogma yang nyaris tanpa kritik sejak memoar beliau tertuang dengan tinta emas dalam lembaran sejarah kemerdekaan Indonesia. Bukan hanya wanita, pria bahkan waria pun sampai detik ini meyakini derap kemajuan emansipasi wanita Indonesia dicapai berkat gerakan emansipasi yang dipelopori RA Kartini.
Untuk mengabadikan makna kepeloporan Kartini yang hampir menjadi figur sentral wanita Indonesia, maka tidak heran jika penampilan wanita kita di setiap tanggal 21 April, sarat dengan fenomena Kartini di kantor-kantor pemerintah, swasta. Bahkan sejumlah unit kerja seperti TV,Radio dll sengaja mensetting program siaran-siarannya sepanjang hari itu dengan nuansa ke-Kartinian.
Tidak heran jika mulai dari kalangan ibu, remaja putri hingga anak perempuan sibuk mendandani diri dengan pakaian kebaya khas Kartini untuk ditampilkan dalam berbagai atraksi. Tak pelak lagi salon kecantikan yang selama ini sepi pengunjung, tiba-tiba kebanjiran orderan,walau hanya sekedar pemasangan sanggul. Semua itu merupakan ekspresi kecintaan dan kekaguman masyarakat Indonesia terhadap sosok Kartini yang dicitrakan dalam suasana keprihatinan sebagaimana yang dilukiskan Ismail Marzuki melalui salah satu karya legendarisnya yang berjudul “Sabda Alam”.
Kita memang tidak dapat menerima dengan argumentasi apapun segala bentuk ketidakadilan dan diskriminasi. Apalagi praktik pelecehan, peremehan dan penganiayaan hak kelompok masyarakat rentan seperti kaum perempuan. Bahkan kita harus menghilangkan, jika perlu melakukan upaya pro justicia kepada siapa pun yang mencoba melanggar hak serta merendahkan harkat dan martabat kaum perempuan sebagaimana konon dialami Kartini dimasa perjuangannya. Terlebih disaat kita di kekinian telah memiliki konstitusi baru dan sejumlah paket peraturan perundang-undangan yang telah menjamin pemenuhan HAM dalam segala aspek kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.
Sebaliknya kita pun tentu setuju jika eksistensi HAM ditempatkan dalam khasanah Indonesia di kekinian sebagaimana pula perlunya image Kartini sebagai tokoh pejuang emansipasi wanita Indonesia untuk diposisikan secara proporsional, objektif dan multi dimensional. Ini penting karena opini public yang terbangun dalam memahami aspek perjuangan kemajuan kaum wanita di Indonesia, tampaknya cenderung didominasi kalau bukan identik dengan sosok perjuangan Kartini.
Betapa tidak karena hampir semua referensi tentang gerakan emansipasi wanita di nusantara, tidak pernah luput pengkajiannya dengan sosok Kartini. Tragisnya karena paradigma gerakan emansipasi wanita di Indonesia terbangun dalam proses dialektika dan rivalitas yang menempatkan pria dan wanita sebagai kekuatan yang saling berhadap-hadapan. Tak ayal lagi gendereng perlawanan kaum wanita atas dominasi pria pun ditabuh dengan konstalasi issue patriarkhi dan konstruksi sosial yang bias gender.
Dengan tidak mengurangi penghargaan dan penghormatan penulis terhadap sosok Kartini maupun setiap perjuangan menentang ketidakadilan dan diskriminasi, namun penulis menyesalkan sekaligus menggugat tiga hal dibalik kepeloporan Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita di Indonesia. Tiga hal dimaksud meliputi :
  1. Seberapa jauh kebenaran deskripsi tentang R.A Kartini sebagai pencetus gerakan emansipasi wanita di Indxt-align: justify;">Apakah profile Kartini dalam sejarah perjuangan Indonesia, benar-benar merupakan deskripsi keberadaaonesia, menurut kronologis fakta sejarah.?
  2. Seberapa tinggi tingkat urgensi kepeloporan Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita di Indonesia?
  3. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Kartini lahir di Jepara tanggal 21 April 1879 dan wafat pada tanggal 17 September 1904. Dalam berbagai manuskrip tentang Kartini antara lain dikisahkan tentang idenya untuk membebaskan kaumnya dari belenggu tradisi dan konstruksi sosial yang sangat melecehkan serta merendahkan martabat perempuan pada masanya. Sejak itulah konon merebak pemahaman yang memicu gerakan emansipasi wanita di Nusantara, yang kemudian menjelma menjadi Negara Republik Indonesia seperti sekarang ini.
    Jika emansipasi dikonstruksikan sebagai konsep penyetaraan hak dan kedudukan antara pria dan wanita untuk berperan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan, maka sesungguhnya hal seperti itu sudah terjadi dan melembaga jauh sebelum era Kartini. Kita tentu masih ingat kalau Majapahit sebagai kerajaan yang pernah menguasai hampir seluruh kawasan Asia Tenggara hingga ke Formosa dibagian utara dan Madagaskar di barat, ternyata dalam silsilah kerajaan Majapahit pernah diperintah 2 dua perempuan masing-masing “Tribhuwanatunggadewi (1328-1350) M”. dan Kusuma Wardhani (1389-1429) M.
    Catatan sejarah yang lebih tua dari Majapahit dikenal pula sosok perempuan sebagai panutan yang sangat dihormati yaitu Fatimah Binti Maimun. Nama tokoh ini ditemukan dalam prasasti makam yang terletak di Leran (dekat Gresik) dalam prasasti tersebut selain nama, juga keterangan wafat yaitu tahun 1028 M
    Bukan hanya itu dalam catatan sejarah yang lebih tua lagi dari semua yang dikemukakan di atas, dikenal juga wanita kesohor dari kerajaan Kalingga (Holing/Keling), masa keemasan kerajaan ini justru berpuncak ketika “Ratu Sima” berkuasa yang diperkirakan berlangsung pada abad VII M. Dalam masa itu menurut sejarah, rakyat sungguh-sungguh sangat merasakan nuansa kemakmuran dan keadilan.
    Hal tersebut ditandai dengan pembangunan gapura penerang disetiap persimpangan jalan yang bertatahkan emas tanpa ada yang berniat apalagi nekat melakukan pencurian sebagaimana dikekinian yang meski tersembunyi, dijaga ketat dan disertai ancaman hukuman berat, toh juga dapat diterobos dengan modus korupsi dan sejenisnya.
    Begitu tegas dan kerasnya Sang Ratu menegakkan hukum, menimbulkan rasa penasaran Raja Ta- Che dengan mengirim mata-mata untuk membuktikan kebenaran berita tentang ketegasan Ratu Sima. Mata-mata tersebut meletakkan kantong emas di pinggir jalan dekat dengan pasar. Ternyata kurang lebih tiga tahun tidak ada yang berani menyentuh atau mengambilnya.
    Pada suatu hari, Ratu Sima bersama putra mahkota diiringi para pejabat kerajaan mengadakan perjalanan untuk melihat dari dekat keadaan dan kehidupan masyarakatnya . Namun tanpa sengaja putra mahkota tersandung kantong emas sampai terjatuh . Melihat kenyataan ini, Ratu Sima sangat marah dan memerintahkan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada putra mahkota. Tetapi berkat nasihat para pejabat istana yang menyatakan putra mahkota tidak bersalah, maka hukuman mati diurungkan. Meski tetap dijatuhi hukuman dengan memotong jari kaki yang menyentuh emas tersebut.. Melihat kenyataan itu, Raja Ta-Che mengurungkan niat untuk menyerang Kalingga
    Dari deskripsi yang dikemukakan di atas membuktikan bahwa ketokohan wanita untuk tampil mengambil peran sentral dalam masyarakat, ternyata selalu hadir disetiap zaman. Hampir setiap wilayah di nusantara sebenarnya memiliki tokoh perempuan atau setidaknya nilai tradisi yang mendudukkan perempuan dalam posisi sentral. Ambil contoh pada masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat yang menganut sistem kekerabatan matrilineal.
    Perempuan dalam sistem kekerabatan ini, mempunyai kedudukan determinan dari pada laki-laki. Mulai dari soal pewarisan hingga berbagai macam permasalahan dalam pernikahan dan perceraian, semuanya hanya terfokus pada perempuan sebagai pemegang hak. Kaum lelaki dalam sistem kekerabatan ini hanya berkedudukan sebagai sub ordinat atas dominasi perempuan. Fenomena tersebut tentu sangat jauh dari alam kehidupan Kartini dengan emansipasinya.
    Tokoh perempuan lain di nusantara yang sempat mengukir prestasi spektakuler sebagai the change of social agent antara lain Martha Christina Tiahahu yang gigih berjuang bersama Pattimura di Maluku, Cut Nyak Dien dan Cut Muthia dua srikandi dari Nanggroe Aceh Darussalam yang tak kenal menyerah untuk mengusir pendudukan pasukan Kape (Belanda) di bumi persada, tak ketinggalan nama Herlina Efendi yang dianugerahi pending Cendrawasih Emas dari pemerintah RI atas jasanya untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan kolonial Belanda.
    Kepeloporan emansipasi wanita di Sulawesi Selatan sendiri, sudah lama terjadi jauh sebelum Kartini menyanyikan lagu klasik itu. Kita tentu pernah mendengar nama Putri Ta’dampali dari istana kerajaan Luwu yang dibuang ke daerah Wajo karena mengidap penyakit lepra. Ditempat pembuangannya bukan saja dapat sembuh konon dengan jilatan seekor kerbau, Putri Ta’dampali juga ternyata sukses menyulap daerah Wajo menjadi kerajaan besar laksana baldatun tayyibatun warabbun ghafuur.
    Kitab lontara karangan legendaris Lagaligo yang sangat mashur dalam dunia kesusastraan kuno ternyata tidak punya nilai seagung itu, seandainya tanpa sentuhan tangan Colli Pujie, lagi-lagi seorang perempuan yang penulis kira sulit dicari tandingannya di masa kini. Dialah yang tekun mengumpulkan serpihan lontara Lagaligo lalu ditulisnya kembali hingga menjadi kitab utuh yang sangat monumental di seantero dunia.
    Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia di Sulsel tentu tidak dapat dipisahkan dengan nama Emmy Saelan. Meski ia adalah seorang perempuan, namun semangat dan kegigihannya dalam membela tanah air, jauh melebihi kemampuan dan kegigihan kaum lelaki pada masanya. Bersama-sama R.W. Monginsidi , Emmy Saelan dapat melumpuhkan kekuatan kolonial Belanda yang mempunyai persenjataan lebih baik dengan taktik berpura-pura menyerah. Setelah itu 8 atau 9 serdadu Belanda mencoba menghampiri untuk menangkapnya dan seketika itu pula, Emmy Saelan meledakkan granat tangan yang menewaskan para penangkap dan dirinya sendiri.
    Dengan fakta sejarah sebagaimana yang dikemukakan di atas, terkuaklah bukti bahwa jauh sebelum era Kartini, kaum wanita sesungguhnya telah mendulang kesetaraan dengan kaum pria bahkan nyata-nyata telah menunjukkan kepiawaiannya dalam mengambil peran sosialnya jauh melebihi peran Kartini. Tapi mengapa nama mereka ini dengan prestasi spektakulernya tak pernah disebut-sebut dalam setiap episode gerakan emansipasi wanita di Indonesia? Dan mengapa pula mereka dapat menjadi faktor determinan dalam tatanan kehidupan pada masanya?. Padahal kalau kita runut dari logika pencerahan, maka kurang apa ortodoks dan konservatifnya tatanan kehidupan yang melembaga dalam akar tradisi yang berlaku ketika itu.
    Kepopuleran Kartini sebagai penggerak emansipasi wanita Indonesia mungkin terjadi akibat propaganda kolonial Belanda. Kesimpulan ini dapat ditarik dari korespondensi Kartini dengan sejumlah tokoh perempuan di negeri penjajah itu yang kemudian diekspos melalui media dan buku-buku. Semua ini mungkin sengaja dilakukan Belanda untuk menebar pertentangan dan perpecahan (Devide at Impera) sebagai taktik untuk menghancurkan dan melemahkan semangat pemberontakan nasional. Ditengarai juga sebagai ajang akulturasi budaya dan nilai Belanda untuk menjamah struktur nilai dan budaya Indonesia agar dapat tunduk dan simpati kepada kolonial Belanda.
    Sampai disini popularitas Kartini sebagai pencetus gerakan emansipasi wanita di nusantara ternyata sarat dengan kepentingan politik dan menapikkan silsilah perjuangan perempuan yang jauh lebih prestius sebelum masanya. Bahkan sangat boleh jadi popularitas Kartini lebih menonjol akibat promosi Belanda sebagaimana anekdot yang mengisahkan kepopuleran telur ayam dari pada telur bebek, puyuh dll adalah karena karateristik ayam yang selalu berkotek setiap akan dan sudah bertelur, hal mana tidak terjadi pada hewan petelur lain.
    Karena itu penulis sangat sesalkan flatform perjuangan perempuan Indonesia dengan starting point pada sosok Kartini yang lemah dan teraniaya. Akan lebih baik jika gerakan emansipasi wanita Indonesia memunculkan figur yang menjadi symbol perempuan Indonesia yang kuat. Piawai, elegan, dan berbagai elemen superioritas. Mungkin dengan pola seperti ini setidaknya dapat mengubah image buruk publik terhadap perempuan baik sebagai kelompok rentan maupun polarisasi yang bertendensi rivalitasnya dengan kaum pria

Kartini Sayang Yang Malang

Kumpulan surat Kartini ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ : rasanya kok judul tersebut tidak mencerminkan kenyataan sesungguhnya yang dialami Kartini ?!
Putri (anak perempuan tertua) dari seorang Bupati Jepara yang tentu saja punya kehidupan lebih sejahtera dibandingkan perempuan lain yang bukan anak keturunan ningrat. Kenyamanan tempat tinggal, juga makanan dan pakaian yang lebih baik dari perempuan lain di luar tembok Kabupaten pastilah dimiliki Kartini. Tak heran bila ia bisa mengakses buku, koran, dan majalah terbitan dalam dan luar negeri yang tentu saja untuk kondisi saat itu adalah hal mustahil bagi perempuan buruh tani, pedagang kecil, pengrajin batik, atau sekedar ibu rumah tangga dari kalangan rakyat jelata.
Keinginan Kartini untuk bersekolah di Betawi adalah keinginan pribadi yang lebih dipengaruhi oleh rasa ketidakadilan atas dirinya yang seorang perempuan dibandingkan dengan saudara laki-lakinya yang kesempatan menempuh pendidikan di luar tembok Kabupaten.  Frase masa kecil hingga sebelum menikah inilah sebenarnya menurutku adalah jejak terang kehidupan Kartini.
Frase kehidupan Kartini yang menurutku gelap dimulai ketika ayahnya meminta ‘memaksa’  Kartini agar menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903.  Usia Kartini sekitar 24 tahun, menurut adat Jawa ‘perawan tua’ adalah julukan bagi perempuan yang telat menikah, bisa jadi Kartini termasuk dalam kategori ini. Sehingga, keterpaksaan menerima perintah menikah dari ayahnya.
Walaupun dalam banyak literatur disebutkan bahwa suaminya mengerti keinginan Kartini, namun kondisi ini hanyalah berlangsung selama satu tahun.  Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Setelah menikah Kartini menjalani proses kehamilan dan pasca melahirkan yang tak didukung kesehatan yang prima. Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, R.M. Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
Bacalah surat-surat Kartini yang berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Aku merasakan betapa berat kehidupan pernikahan Kartini.
Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. “…Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu…
Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah. Ah … Kartini sayang (juga) malang. Aku berandai-andai : bertemu Kartini dan menghadiahkan sebuah buku berjudul ‘Memilih Monogami’ karya Faqihuddin Abdul Kodir dan ‘Islam Agama Ramah Perempuan’ karya Husein Muhammad. Apakah akan mengubah sejarah ?! Kartini tak menikah dengan Adipati Ario, tidak memilih pernikahan poligami, juga takkan mati muda ‘pasca melahirkan’.
Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.
Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya. Tapi terbukti Kartini tidak bahagia. Pilihan hidup yang menyiratkan kesedihan, dan mungkin saja berpengaruh kepada kesehatan jasmani dan rohani Kartini. Memang umur di tangan Allah Yang Maha Pencipta, namun pertanyaan besarku adalah ada apa pada diri Kartini pasca melahirkan ?! Hanya empat hari saja Kartini bertahan, bayi mungil itu tiada lagi beribu dan tak memperoleh hak menyusu ASI dari ibu kandungnya. Kartini telah menghadap Illahi Rabbi dalam usia 25 tahun.
Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini seperti Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, Dewi Sartika dan lain-lain. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Sikapnya yang pro terhadap poligami juga bertentangan dengan pandangan kaum feminis tentang arti emansipasi wanita. Dan berbagai alasan lainnya.
Pihak yang pro mengatakan bahwa Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional; artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional.

Mencari Kartini Dimasa Kini

Wahai ibu kita kartini. Putri yang mulia. Sungguh besar cita-citanya Bagi Indonesia.

Lirik lagu di atas merupakan sebuah penggalan dari lagu Ibu Kita Kartini yang di dedikasikan untuk mengenang jasa-jasa yang pernah dilakukan oleh RA Kartini. Sungguh besar jasa-jasa Krtini sampai lirik lagu diatas yang berjudul Ibu Kita Kartini diulang tiga kali.

Melihat perjuangannya memang sudah sepantasnya Kartini mendapat penghormatan atas jasa-jasanya terhadap emansipasi perempuan dahulu.

21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, pertama kalinya Raden Adjeng Kartini dilahirkan. Dia adalah seorang tokoh perempuan di Indonesia yang dengan semangat memperjuangkan emansipasi perempuan Indonesia. Salah satu yang dilakukannya adalah dengan mendirikan Sekolah Kartini oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.

Kini seratus tiga puluh dua tahun sudah kita mengenang Kartini salah satu pahlawan perempuan Indonesia. Meskipun jasad telah tiada tetapi jasa akan selalu mewangi sepanjang perjalanan Indonesia.  Sebagai salah satu pahlawan bangsa patut kita apresiasi yang sebesar besarnya atas jasa-jasanya.

Dialah sedikit dari pahlawan perempuan di Indonesia di tengah dominasi pahlawan laki-laki. Lantas setelah seratus tiga puluh dua tahun apakah kita hanya akan terbuai oleh kemanisan yang telah ditorehkan Kartini? Jangan sampai hingar bingar peringatan hari kartini mampu melupakan perjuangannya dulu dan  mengikis makna di balik hari bersejarah ini.

Sudah sepantasnya perempuan Indonesia masa kini mencontoh perjuangan RA Kartini. Sehingga kita mampu menemukan sosok kartini-kartini masa kini. Melihat perjuangan RA Kartini dalam pendidikan menjadi sangat menarik untuk diperbincangkan. Semangat tanpa kenal lelah Kartini untuk membangun sekolah-sekolah patut kita contoh.

Pemikirannya akan pentingnya pendidikan untuk kaum perempuan sudah selayaknya kita jadikan referensi untuk pengembangan dunia pendidikan kita saat ini. Sehingga tokoh pendidikan saat ini tidak hanya di hiasi oleh kaum adam saja. Sudah selayaknya kaum hawa menunjukan tajinya sebagai bukti jika semangat Kartini yang melekat pada perempuan-perempuan Indonesia terwariskan dengan baik.

Saatnya perempuan-perempuan masa kini sebagai calon-calon pengganti RA Kartini mulai berfikir untuk memajukan dunia pendidikan Indonesia saat ini, yang semakin karut marut oleh pemikiran pragmatisme yang mulai membudidaya didunia pendidikan Indonesia. Sehingga apa yang diperjuangkan Kartini dahulu tidak sia-sia. Jika Kartini dulu saja bisa yang berjuang dari hadangan kolonialisme, tentunya tidak ada alasan perempuan sekarang tidak bisa melanjutkan prjuangan Kartini.

Mari buktikan jika perempuan-perempuan Indonesia mampu mewarisi semangat kartini khususnya dalam bidang pendidikan. Sehingga mampu membawa setetes penyegaran ditengah dahaganya kualitas pensisikan Indonesia yang sangat memprihatinkan oleh pola fikir Pragmatisme. Mari saatnya perempuan-perempuan Indonesia meniru RA Kartini yang berjuang dengan ikhlas tanpa pamprih, yang didasari pada cita-cita suci bagi Indonesia. Bagi pendidikan Indonesia khususnya. Maju perempuan Indonesia.

Kartini Permpuan Pejuang

Alangkah besar bedanja bagi masjarakat Indonesia bila kaoem perempoean dididik baik-baik (Kutipan surat kartini Agustus 1901)”
R.A Kartini merupakan sebuah simbol perjuangan kaum perempuan dalam menghadapi kebodohan di dalam pendidikan dan sebagai simbol perlawanan terhadap pengekangan kaum perempuan terhadap dunia luar. Perjuangan dan perlawanan kartini harus selalu tetap dijadikan sabagai referensi dan titik awal setiap kaum perempuan direpublik ini untuk melawan kebodohan dan diskriminasi perlakuan di beberapa bidang atau hal. Diskriminasi perempuan dalam pembangunan ekonomi,sosial dan politik masih terus terjadi disetiap sendi-sendi kehidupan bangsa ini. Masih rendahnya keterlibatan dan partisipasi perempuan di dalam pembangunan ekonomi,sosial dan politik harus menjadi musuh bersama kita dalam rangka mensukseskan pembangunan menyeluruh di negeri ini.
Keterlibatan dan partisipasi perempuan didalam pembangunan ekonomi,sosial dan politik sudah menjadi harga mati di republik ini demi mencapai tujuan dan cita-cita bangsa. Kaum perempuan harus menjadi salah satu subjek pembangunan bukan objek pembangunan. Kaum perempuan harus siap dan mau untuk menjadi subjek pembangunan bukan selalu hanya menjadi objek pembangunanSelamat hari Kartini dan semoga mulai hari ini kehadiran kartini-kartini baru semakin banyak di negeri ini dan anda menjadi salah satu dari kartini-kartini baru tersebut demi perubahan nasib perempuan dan negeri ini.

Kartini Abadi Dalam Kehidupan

Kartini

Kartini
Kartini? Ya, Kartini. Siapa Kartini? Itu dia pahlawan wanita. Tanya jawab yang bersifat ke kanak-kanakan, tetapi memberi nilai penting. Seorang Kartini (maaf, bukan nama ibu Kartini penjual bakso ya?) dikenal sebagai tokoh tokoh pembangun peranan wanita, tokoh yang berjiwa sosial yang terus berjuang membangkitkan kewibawaan kaum perempuan yang pada masa penjajahan dianggap rendah.
Wanita adalah objek segala urusan rumah tangga, objek penerus keturunan bahkan bentuk kekerasan seksual bertumpu pada mereka (kaum perempuan pada masa lalu), segala kebodohan tentang dunia pendidikan yang paling banyak adalah milik kaum perempuan, perempuan hanya boleh belajar kecuali anak raja, anak pegawai pemerintah, sementara anak rakyat tidak bisa ikut belajar apalagi bangkit memajukan perjuangan melawan penjajah dan pembodohan.
Saya memahami begitu banyak yang lebih mengetahui bahkan mengenali seorang Ibu Kartini, sosok pahlawan yang telah diabadikan namanya dalam sejarah. Saya tidak perlu menjelaskan siapa dan bagaimana Kartini dengan perjuangannya, karena sebenarnya saya tidak begitu tahu sejarahnya, tetapi lebih dari pada Kartini masa lampau, saya menulis tentang Kartini masa kini, yang dalam arti Karti dalam kehidupan keluarga.

Menengok Kehidupan Kartini di Masa Lampau

“Semangat Kartini”

nb: penulis udah terkantuk tapi dengan semangat kartini akhirnya bisa terselesaikan tulisan ini.
Image Hosted by ImageShack.us
RA Kartini merupakan simbol perjuangan para wanita. Beliau adalah pejuang wanita yang terus mengobarkan semangat dalam memperjuangkan hak-hak wanita, mendorong kesadaran perempuan untuk bangkit dari ketertinggalan, kebodohan dan tindakan diskriminatif. Kartini memang merupakan sosok wanita yang istimewa. Sebab, nilai-nilai itulah yang secara substansial diperjuangkan oleh Kartini. Hal itu bias terekam dalam surat-suratnya kepada sahabatnya di Belanda yang kemudian dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Oleh karena itu untuk mengenang dan memperingati perjuangan Kartini seharusnya kaum perempuan pada khususnya harus lebih baik lagi dalam memperjuangkan persamaan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat. Perubahan dari kebodohan ke pencerdasan, diskriminasi ke kesetaraan dan keadilan.
Image Hosted by ImageShack.us
Mari kita telisik lebih jauh kehidupan para Kartini muda di PLANTAGAMA (PGM). Secara tidak sadar hampir para wanita PLANTAGAMA sangat mendominasi dalam keseharian dan aktifitas PGM, yah memang pada saat perekrutan calon anggota banyak wanita yang tertarik dan mendaftar untuk bergabung dalam keluarga PGM dan hal itu semua terbukti dalam beberapa kegiatan alam bebas bahkan rapat atau diskusi sekalipun selalu saja yang paling banyak wanita dan wanita. Memang tidak bisa dipungkiri lagi wanita PGM mencerminkan wanita yang memiliki kecerdasan emosional yang terkendali, kepemimpinan dan tentu saja pengalaman yang selalu terdidik dan meningkat. Coba buktikan saja dalam berbaur dengan temannya siapapun yang bukan anggota PGM, mereka pasti akan mendominasi dalam segala hal kalaupun tidak, mereka akan berusaha untuk bersuara karena mereka memiki pengalaman berbicara dengan siapapun dan terlebih lagi dengan para kakak, mas, abang bahkan pria dan bapak.
Image Hosted by ImageShack.us
Alangkah baiknya hal ini dimiliki juga oleh semua wanita Indonesia, kecerdasan berkomunikasi, emosional dan sabar dalam setiap rintangan hidup yang ada. Jadi… sepertinya tidak salah juga ada yang mengatakan “ayah rumah tangga dan ibu kerja kantoran sudah meluas dimana-mana”.